Jumat, 25 April 2014

CONTOH PTK PKn

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

            Dalam UU RI  No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)   pasal 3 secara imperatif digariskan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan  kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Berdasarkan kepada isi dari UU tersebut diatas bahwa pendidikan nasional yang dilaksanakan secara nyata dalam dunia pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa  dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi kecerdasan yang paripurna, yaitu meliputi kecerdasan rasional, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual.
            Dalam rangka pembentukan watak dan karakter  serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan manusia yang demokratis dan bertanggung jawab merupakan missi suci  (mission sacre) dari Pendidikan Kewarganegaraan. Secara khusus, seperti dapat dicermati dalam Penjelasan Pasal 37 ayat (1) “Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik  menjadi yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air”. Dalam konteks ini Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya merupakan pendidikan kebangsaan atau pendidikan karakter bangsa sehingga warga negara Indonesia menjadi “good and smart  citizen”.
            Adapun visi, misi dan tujuan mata pelajaran PKn adalah terwujudnya suatu mata pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (nation and character building) dan pemberdayaan warga negara, misinya adalah membentuk warga negara yang baik, yakni warga negara yang sanggup melaksakan hak dan kewajibannnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuai dengan UUD 1945. Sedangkan tujuan mata pelajaran  PKN adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki kemampuan berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif, sehingga mampu memahami berbagai wacana kewarganegaraan
  2. Memiliki keterampilan intelektual dan keterampilan berpartisipasi secara demokratis dan bertanggung jawab.
  3. Memiliki watak dan kepribadian yang baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara
Berdasarkan visi, misi dan tujuan mata pelajaran PKn tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pendidikan nilai yang secara substantif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air.
Dengan karakter seperti tersebut diatas, maka dalam  pengajaran PKn di kelas harus menggunakan paradigma baru yang mampu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif, mampu bekerja sama, berfikir kritis dan analitis serta dapat meagar pembelajaran PKn menjadi optimal.
Pada awalnya pola yang digunakan dalam pembelajaran PKn adalah menggunakan paradigma lama, yaitu (1). pola dan praktik pembelajaran cenderung indoktrinatif dan monolitik yaitu pembelajaran disampaikan melalui ceramah dan bersifat guru sentris, sehingga tujuan dan peran kritis / misi PKn untuk mempersiapkan warga negara yang baik dan mampu bermasyarakat sulit dicapai, kurang mendorong lahirnya potensi siswa, tidak mendidik siswa untuk belajar mandiri, pola interaksi searah (2). Muatan materi ajarnya sarat dengan kepentingan subjektif rezim penguasa, sehingga pelajaran bersifat hafalan semata dan kurang gairah dalam mempelajarinya, prestasi siswa kurang optimal, (3). Mengabaikan dimensi afeksi dan psikomotorik sebagai bagian integral dari pencapaian hasil belajar, evaluasi hanya materi yang diajarkan dan hanya menyentuh aspek kognitif, dengan tes sebagai alat evaluasi.
            Berdasarkan pada uraian diatas, maka proses pembelajaran PKn harus dikemas sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan dengan mudah terutama dalam menggali dimensi afektif siswa sebagai muara akhir dari mata pelajaran PKn. Untuk itu perlu strategi khusus dalam kegiatan pembelajaran PKn  dengan menggunakan pendekatan paradigma baru pendidikan, yaitu sebagai berikut :
  1. Model cooperative learning
  2. Tujuan dan peran kritis / misi PKn, yaitu mendidik dan membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan, sikap, nilai moral, dan ketrampilan untuk memahami lingkungan sosial masyarakat dapat dicapai
  3. Siswa sebagai subjek pembelajaran
  4. Siswa sentris
  5. Pengembangan potensi siswa terjadi secara optimal
  6. Siswa mampu belajar mandiri
  7. Bergairah dalam mempelajari PKn
  8. Evaluasi menyangkut tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan alat evalusi tes dan non tes
  9. Pola interaksi optimal
  10. Prestasi siswa harus optimal  
Oleh karena itu untuk  meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran PKn, pemilihan metoda yang tepat  sangat menentukan, karena dengan metode pembelajaran yang kurang tepat menyebabkan nilai mata pelajaran  PKn di kelas X1 selalu jauh dibawah KKM yang telah ditetapkan. Selain itu peserta didik nampak tidak antusias dan kurang semangat dalam mempelajari PKn, karena peserta didik di dalam ruangan kelas hanya diam, duduk dan catat.
Rendahnya hasil pembelajaran  PKn dikelas X1 dengan indikasi banyak peserta didik yang tidak tuntas sesuai KKM dan harus selalu mengikuti remedial setiap ada ulangan, menurut analisa penulis, ternyata tidak sedikit siswa kesulitan dalam mengikuti pelajaran PKn karena metode pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru dirasakan kurang tepat. Dengan demikian kemandirian pesrta didik dalam belajar kurang terlatih dan proses belajar mengajar akan berlangsung secara kaku sehingga kurang mendukung pengembangan pengetahuan, sikap, moral dan ketrampilan  peserta didik.
Pemilihan model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan potensi peserta didik merupakan kerampilan dan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru (Kosasih, 1992). Hal ini didasari oleh asumsi bahwa ketepatan guru dalam memilih dan metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan dan hasil belajar peserta didik, karena model dan metode pembelajaran yang digunakan guru berpengaruh terhadap kualitas proses belajar mengajar yang dilakukannya.
Penulis tertarik untuk menggunakan model cooperative learning dalam pembelajaran PKn  kelas X1 dalam Kompetensi Dasar  : Mendeskripsikan sistem hukum dan peradilan internasional). Karena menurut penulis model pembelajaran ini dapat mendukung pengembangan pengetahuan, sikap, moral dan ketrampilan peserta didik, sehingga bisa mencapai hasil yang memuaskan, hasil belajar siswa tuntas mencapai KKM.
Untuk mengetahui implementasi  model coopertive learning tipe Make – A Match  penulis perlu melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Implementasi Model Cooperative Learning tipe  Make –A Match Modifikasi   Untuk Meningkatkan Nilai Diatas KKM Pada Mata Pelajaran PKn. (Penelitian dilakukan Di kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Padalarang pada Kompetensi Dasar Mendeskripsikan Sistim Hukum dan Peradilan Internaional )
B. Rumusan Masalah
            Masalah dalam penelitian tindakan kelas ini, penulis rumuskan sebagai berikut :
            Apakah penggunaan model cooperative learning tipe Make – A Match dalam pembelajaran PKn dapat mendorong pencapaian nilai diatas KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) ?
C. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
            Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui penggunaan model cooperative learning tipe Make- A Match  dapat meningkatkan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal pada Kompetensi Dasar  Mendeskripsikan sistim hokum dan peradilan internasional
D. Manfaat Penelitian
            Manfaat penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan acuan pada guru PKn terutama pada penulis sendiri dan guru PKn lain pada umumnya dalam mengimplementasikan model cooperative learning di dalam kelas
  2. Memberikan informasi kepada kalangan pendidikan bagaimana menciptakan uatu kondisi pembelajaran yang mampu mengembangkan pengetahuan, sikap, moral dan ketrampilan siswa dalam pembelajaran PKn
  3. Memberikan bahan rujukan konseptual untuk perbaikan kinerja guru dalam pembelajaran PKn, sehingga dapat meningkatkan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
E. Hipotesa Tindakan
            Hipotesis merupakan “Jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori atau kajian dan masih harus diuji kebenarannya”. (Riduwan, 2008 : 35) Hipotesis harus dirumuskan dalam kalimat positif. Hipotesis tidak boleh dirumuskan dalam kalimat bertanya, kalimat menyuruh, kalimat menyarankan, atau mengharapkan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka penulis mengajukan hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai berikut :
“Penggunaan model cooperative learning tipe Make – A Match dalam pembelajaran PKn di kelas X1 – IPS 1  SMAN 2 Padalarang dapat mendorong meningkatkan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal”.    
              
F.     Metode Penelitian
Metoda penellitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yaitu kajian yang bersifat reflektif atas tindakan guru yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas tindakan, guna memperbaiki pembelajaran siswa.
G..Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan pembelajaran kontekstual dengan persiapan :
1.      Pembuatan lembar instrumen penelitian
2.      Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi
3.      Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran  ( RPP ) agar menarik dan mudah dipahami siswa.
4.      Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai materi pembelajaran.
5.      Persiapan pre test,post test dan pembuatan perangkat penilaian.
6.      Lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan, kemandirian,kompetensi,kelancaran dan ketepatan.
7.      Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan melalui siklus siklus untuk melihat/mengamati ketuntasan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran PKn dengan menggunakan model cooperative learning tipe Make – A Match. Sebelum Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan terlebih dahulu dibuat perangkat berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ).
Prosedur Penelitian Tindakan kelas yang akan dilakukan diuraikan sebagai berikut:
1.      Perencaaan ( Planning )
a.       Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  dengan model Make – A Match
b.      Mempersiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.
c.       Membuat lembar observasi atau insrtumen penelitian untuk memantau proses pembelajaran/.
d.      Membuat alat evaluasi ( instrumen penilaian ) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran atau penilaian proses pembelajaran yang digunakan dalam siklus PTK.
2.      Pelaksanaan.
a.       Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pembelajaran.
b.      Guru menjelaskan prosedur pembelajaran cooperative learning tipe make – A Match
c.       Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa setiap kelompok lima orang.
d.      Setiap kelompok ditugaskan melakukan diskusi untuk menyiapkamn materi yang terdapat dalam kartu
e.       Setiap kelompok memainkan kartu yang berisi materi.
f.       Setelah salah seorang anggota kelompok berhasil menyusun kartu sesuai dengan materi, maka siswa tersebut mendapat point. Demikian seterusnya sampai semua siswa dapat menyusun seluruh aartu sesuai dengan materi
g.      Memberikan penguatan dan kesimpulan secara bersama sama
3.      Pengamatan ( Observing )
Observasi adalah
a.       Seberapa banyak pelaksanaan tindakan telah sesuai dengan rencana tindakan yang ditetapkan sebelumnya.
b.      Seberapa banyak pelaksanaan telah menunjukan tanda tanda akan tercapai tindakan kelas.
c.       Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan positif.
d.      Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan positif.
e.       Apakah terjadi dampak sampingan yang negatif sehingga merugikan atau kecenderungan mengganggu kegiatan lain.
Dari hasil observasi dijadikan kajian untuk melakukan refleksi yang menjadi acuan pelaksanaan siklus selanjutnya.
4.      Refleksi
Pada tahap refleksi ini peneliti mengingat dan merenungkan kembali pelaksanaan tindakan kelas yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses berbagai masalah kelemahan dan kekurangannya serta kendala yang dihadapi dalam melaksanakan tindakan kelas. Refleksi dapat dijadikan acuan perubahan kearah perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.
H.    Instrumen Penelitian
Agar data yang dihasilkan valid dan akurat, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.       Angket/kuisioner yang berupa sejumlah pertanyaan pertanyaan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.
b.      Lembar observasi yang merupakan suatu gambaran untuk melihat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning tipe Make –A Match
c.       Dokumentasi yang berupa hasil nilai-nilai yang diperoleh siswa pada PTK I,II dan III.

I.       Subjek dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini dilaksanakan di kelas X1- IPS yang berlokasi di jalan Letkol G. A Manulang Kicau -   Kabupaten Bandung Barat. Dengan jumlah siswa 42 orang .
Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan April sampai dengan Mei sesuai dengan jadwal pembelajaran.   
 
   




BAB II

LANDASAN TEORITIS


A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
     1. Pengertian  Cooperative Learning
            Cooperative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama (Hamid Hasan., 1996). Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi, belajar secara kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan dan belajar anggota  lainnya dalam  kelompok tersebut (Jhonson, et al., 1994: Hamid Hasan, 1996). Sehubungan dengan pengertian tersebut, slavin (1984), mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai dengan 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
            Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam cooperative leraning harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdepedensi yang efektif diantara anggota kelompok (Slavin, 1983, Stahl, 1994). Disamping itu, pola hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat  mereka lakukan untuk berhasil berdasarkan kemampuan dirinya secara individual dan sumbangsih dari anggota lainnya selama mereka belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Stahl (1994) mengatakan bahwa model pembelajaran cooperative learning menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran ini berangkat dari asumsi mendasar dalam kehidupan masyarakat, yaitu “getting better together” atau  “raihlah yang lebih baik secara bersama-sama”.
            Aplikasi dalam pembelajaran di kelas, model pembelajaran ini mengetengahkan realita kehidupan masyarakat yang dirasakan dan dialami oleh peserta didik dalam kesehariannya, dengan bentuk yang disederhanakan dalam kehidupan kelas. Model pembelajaran ini memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh  harus diperoleh dari guru, melainkan bisa juga dari fihak lain yang terkait dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya.
            Model pembelajaran cooperative learning merupak suatu model pembelajaran yang membantu peserta didik dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya  sesuai dengan kehidupan nyata dalam masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama diantara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas, dan perolehan belajar. Model pembelajaran kooperatif  mendorong peningkatan kemampuan peserta didik dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, karena peserta didik dapat bekerjasama dengan peserta didik lain dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadapa materi pelajaran yang dihadapi.
            Berdasarkan pengertian tersebut, maka dalam pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning, pengembangan kualitas diri peserta didik terutama aspek afektif peserta didik dapat dilakukan secara bersama-sama. Belajar dalam kelompok kecil dengan prinsip kooperatif sangat baik digunakan untuk mencapai tujuan belajar, baik yang sifatnya kognitif, afektif maupun konatif (Hamid hasan, 1996 ; Kosasih, 1994).  Suasana belajar yang berlangsung dalam interaksi yang saling percaya, terbuka dan rileks diantara anggota kelompok memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh dan memberi masukan diantara mereka untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan moral serta ketrampilan yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran.    
            Secara umum, pola interaksi yang bersifat terbuka dan langsung diantara anggota kelompok sangat penting bagi peserta didik untuk memperoleh keberhasilan dalam belajarnya. Hal ini dikarenakan setiap saat mereka akan melakaukan diskusi, saling membagi pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan serta saling mengoreksi antar sesama dalam belajar. Hal ini terjadi karena dalam cooperative learning peserta didik diberikan kesempatan yang memadai untuk memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkannya untuk melengkapi dan memperkaya pengetahuan yang dimiliki dari anggota kelompok belajar lainnya.
            Suasana belajar dan  rasa kebersamaan yang tumbuh dan berkembang diantara sesama anggota kelompok memungkinkan peserta didik untuk mengerti dan memahami materi pelajaran dengan lebih baik. Proses pengembangan kepribadian yang demikian, juga membantu mereka yang kurang berminat menjadi lebih bergairah dalam belajar. Peserta didik yang kurang bergairah dalam belajar akan dibantu oleh peserta didik yang lainyang mempunyai gairah yang lebih tinggi dan memiliki kemampuaan untuk menerapkan apa yang telah dipelajarinya. Suasana belajar seperti itu disamping, disamping proses belajarnya berlangsung secara lebih efektif, juga akan terbina nilai-nilai lain yang sesuai dengan tujuan pendidikan PKn, yaitu nilai gotong royong, kepedulian sosial, saling percaya, kesediaan menerima dan memberi, dan tanggung jawab peserta didik, baik terhadap dirinya maupun  terhadap kelompoknya.
   2. Konsep Dasar Cooperative Learning
            Dalam menggunakan model belajar cooperative learning didalam kelas, ada beberapa konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh guru. Guru dengan kedudukannya sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran dalam menggunakan model ini harus memperhartikan beberapa konsep dasar yang merupakan dasar-dasar konseptual dalam penggunaan cooperative learning. Adapun prinsip-prinsip dasar tersebut menurut Stahl (1994), meliputi sebagai berikut :
  1. Perumusan Tujuan Belajar Peserta Didik Harus Jelas
Sebelum menggunakan strategi pembelajaran, guru hendaknya memulai dengan merumuskan tujuan pembelajaran dengan jelas dan spesifik. Tujuan itu menyangkut apa yang diinginkan oleh guru untuk dilakukan oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya. Perumusan tujuan harus disesuaikan dengan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajarannya.
  1.  Penerimaan yang menyeluruh oleh peserta didik tentang tujuan belajar
Guru hendaknya mampu mengkondisikan kelas agar mahasiswa menerima tujuan dari sudut kepentingan diri dan kepentingan kelas. Oleh karena itu, peserta didik dikondisikan untuk mengetahui dan menerima kenyataan bahwa setiap  orang dalam kelompoknya menerima dirinya untuk bekerja sama dalam mempelajari seperangkat pengetahuan dan ketrampilan yang telah ditetapkan untuk  dipelajari.

  1. Ketergantungan yang bersifat positif
Untuk mengkondisikan terjadinya interdepedensi diantara peserta didik dalam kelompok belajar, maka guru harus mengorganisasikan materi dan tugas-tugas pelajaran sehingga peserta didik memahami dan mungkin untuk melakukan hal itu dalam kelompoknya.
  1.  Interaksi yang bersifat terbuka
Dalam kelompok belajar, interaksi yang yang terjadi bersifat langsung danterbuka dalam mendiskusikan materi dan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Suasana belajar seperti ituakan membantu menumbuhkan sikap  ketergantungan secara positifdan keterbukaan dikalangan peserta didik untuk memperoleh keberhasilan dalam belajarnya
  1. Tanggung jawab individu
Salah satu dasar penggunaan cooperative learning dalam pembelajaran adalah bahwa keberhasilan belajar akan lebih mungkin dicapai secara lebih baik apabila dilakukan dengan bersama-sama. Secara individual peserta didik mempunyai dua tanggung jawab, yaitu mengerjakan dan memahami materi atau tugas bagi keberhasilan dirinya dan juga keberhasilan anggota kelompoknya.
  1. Kelompok bersifat heterogen
Dalam pembentukan kelompok belajar, keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga interaksi kerjasama yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai karakteristik peserta didik yang berbeda. Dalam suasana belajar seperti itu akan tumbuh dan  berkembang nilai, sikap, moral da perilaku peserta didik.

  1. Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
Dalam interaksi dengan peserta didik lainnya, peserta didik tidak begitu saja bisa menerapkan dan memaksakan sikap dan pendiriannya pada anggota kelompok lainnya. Pada kegiatan dalam bekerja kelompok, peserta didik harus belajar bagaimana meningkatkan kemampuan interaksinya dalam memimpin, berdiskusi, bernegosiasi dan mengklarifikasi berbagai masalah dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok.
  1. Tindak lanjut  ( follow up )
Setelah masing-masing kelompok belajar menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, selanjutnya perlu dianalisis bagaimana penampilan dan hasil kerja  peserta didik dalam kelompok belajarnya, termasuk tentang bagaimana hasil kerjanya, bagaimana mereka membantu anggota kelompoknya, bagaimana sikap dan perilaku merekadalam interaksi kelompok dan apa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan keberhasilan kelompok.
  1. Kepuasan dalam belajar
Setiap peserta didik dan kelompok harus memperoleh waktu yang cukup untuk belajar dalam mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilannya.
   3. Langkah-langkah dalam pembelajaran cooperative learning
            Langkah-langkah dalam penggunaan model cooperative learning secara umum (Stahl, 1994; Slavin, 1983) dapat dijelaskan secara operasional sebagai berikut :
1.       Langkah pertama yang dilakukan guru adalah merancang rencana program pembelajaran, diantaranya dengan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai, menetapkan sikap dan ketrampilan sosial yang diharpkan dikembangkan dan diperlihatkan peserta didik, mengorganisasikan materi dan tugas-tugas peserta didik yang mencerminkan sistem kerja dalam kelompok kecil
2.       Langkah kedua adalah mengaplikasikan pembelajaran di kelas, guru merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan peserta didik dalam belajar secara bersama, menyampaikan pokok-pokok materi, menggali pengetahuan dan pemahaman peserta didiktentang materi pelajaran berdasarkan apa yang telah dibelajarkan, membimbing mahasiswa untuk membuat kelompok, menjelaskan tentang tugas yang harus dilakukan oleh peserta didik dalam kelompoknya masing-masing, melakukan monitoring dan mengobservasi kegiatan belajar pesrta didik berdasarkan lembar observasi yang telah dirancang sebelumnya.
3.       Langkah ketiga adalah guru melakukan observasi terhadap kegiatan peserta didik, mengarahkan dan membimbing peserta didik baik secara individual amaupun kelompok, memberikan pujian dan kritik membangun pada saat peserta didik bekerja dalam kelompok, secara periodik memberikan layanan kepada peserta didik.
4.       Langkah keempat adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didikdari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya guru sebagai moderator, mengarahkan dan mengoreksi pengertian dan pemahaman peserta didik terhadap materi atau hasil kerja yang telah ditampilkannya, mengajak peserta didik melakukan refleksi terhadap jalannya pembelajaran, memberikan beberapa penekanan terhadap nilai, sikap dan perilaku sosial yang harus dikembangkan dan dilatih oleh peserta didik.


B. Cooperative tipe Make – A Match
            Terdapat beberapa tipe pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning),  salah satu diantaranya adalah  Make – A Match  (Mencari Pasangan), yang dikembangkan oleh Lorna Curran, 1944). Pembelajaran tipe  ini menurut hemat penulis sangat tepat digunakan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, moral dan ketrampilan peserta didik.  Dalam proses pembelajaran kooperatif tipe Make – A Match melalui 7 tahapan, yaitu  :
  1. Guru menyiapkan beberapa  kartu yang berisi beberapa konsep atau topic yang cocok untuk sesi review
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban jawaban/soal dari kartu yang dipegang
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya soal/ jawaban
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas  waktu diberi poin
  6. Demikian seterusnya sampai semua siswa mendapat poin
  7. Kesimpulan/penutup
Akan tetapi dalam pelaksanaannya  model pembelajaran  Make – A Match ini terdapat beberapa perubahan, yaitu sebagai berikut :
  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang dipakai untuk sesi review
  2. Siswa bersama-sama dalam kelompok menggali informasi dari berbagai sumber yang relevan tentang system hukum danperadilan internasional
  3. Siswa mendapat sejumlah kartu yang harus dimainkan  bersama dalam kelompok
  4. Siswa secara berkelompok memainkan kartu dengan cara mengumpulkan kartu yang memiliki kesamaan materi atau materi yang satu tema, misalnya siswa akan mengumpulkan kartu yang temanya/judulnya subjek hokum internasional, maka siswa harus mengumpulkan enam kertu yang berisi tentang subjek hukum inter nasional
  5. Setelah siswa berahasil mengumpulkan kartu, siswa diberikan waktu untuk menghapalkannya dan setelah itu dan dinilai oleh teman kelompoknya tentang kebenarannya.
  6. Siswa memainkan kartu sampai seluruh materi yang terdapat dalam kartu dapat dikuasai siswa secara maksimal   
C. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
            Salah satu prinsip penilaian dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan apakah peserta didik sudah mencapai ketuntasan yang disebut dengan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM).
            Kriteria Ketuntasan Minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan  atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Dalam menentukan KKM dengan mengikuti pola yang sudah ditetapakan dengan memperhatikan tiga faktor, yaitu inteks siswa, daya dukung sekolah dan essensi materi pelajaran.
            Kriteria Ketuntasan Minimal menunjukkan presentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus), angka maksimum 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal dibawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap.
            Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal adalah :
  1. Sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti
  2. Sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran. Peserta didik diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian aagar mencapai nilai melebihi KKM.
  3. Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan  evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah.
  4. Merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat.
  5. Merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran.
D. Metode dan Model  Mengajar
     1. Pengertian Metode Mengajar
            Dalam pendidikan kata metode digunakan untuk menunjukan serangkain kegiatan guru yang terarah yang menyebabkan siswa belajar. Metode dapat pula dianggap sebagai cara atau prosedur yang keberhasilannya adalah di dalam belajar, atau sebagai alat yang menjadikan mengajar menjadi efektif.  Metode merupakan salah satu aspek pokok dalam pendidikan dan merupakan masalah sentral.
            Mengajar yang berhasil menuntut penggunaan metode yang tepat. Seorang guru tentu mempunyai metode dan seorang guru yang baik akan memahami dengan baik metode yang digunakannya sebab seperti sudah sering didengar bahwa tidak ada satu metode pun yang baik untuk semua mata pelajaran.
            Sifat-sifat metode mengajar yang baik  (Azis Wahab, 2008 : 38) adalah sebagai berikut :
  1. Bersifat teliti / cermat dan sungguh-sungguh, artinya harus didasarkan  pada ketelitian yang bersifat ilmiah
  2. Memiliki sifat kejujuran kepada siswa, guru dan penulis
  3. Bersifat artistik, artinya guru harus memiliki rasa kesesuaian dan tidak sesuai
  4. Bersifat pribadi, artinya metode harus merupakan sesuatu yang sudah disusun dan dikembangkan guru yang jauh dari basa-basi atau yang sekedar kegiatan rutin.
  5. Bersifat kekinian, yang hanya mungkin melalui pengalaman   
  6. Memiliki sifat menghubungkan dirinya dengan pengalaman siswa
  7. Metode adalah suatu proses bukan tindakan
Setiap metode mengajar mempunyai keunggulan dan kelemahan, tetapi yang paling penting bagi guru, metode yang akan digunakan harus jelas dahulu tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
    1. Anak didik, adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan
    2. Tujuan, adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Metode yang dipilih harus mendukung tujuan yang akan dicapai
    3. Situasi, metode yang dipilih harus dengan situasi yang akan diciptakan dalam proses pembelajaran
    4. Fasilitas, lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar
    5. Guru, kepribadian, latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar guru dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar

   2. Pengertian Model Mengajar
            Membahas tentang model-model mengajar dalam kerangka pengajaran PKn merupakan suatu hal yang penting. Dalam kaitannya dengan mengajar PKn, maka guru dapat mengembangkan model mengajarnya yang dimaksudkan sebagai upaya mempengaruhi perubahan yang baik dalam perilaku siswa. Pengembangan model-model mengajar tersebut adalah dimaksudkan untuk membantu guru meningkatkan kemampuannya untuk lebih mengenal siswa dan menciptakan lingkungan yang lebih bervariasi bagi kepentingan belajar siswa.
            Model mengajar adalah merupakan sebuah perencanaan pengajaran yang menggambarkan proses yang ditempuh pada proses belajar mengajar agar dicapai perubahan spesifik pada perilaku siswa seperti yang diharapkan.
            Ciri-ciri model mengajar adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki prosedur yang sistematik
  2. Hasil belajar ditetapka secara khusus
  3. Penetapan lingkungan secara khusus
  4. Menetapkan kriteria keberhasilan suatu unjuk kerja yang diharapkan dari siswa
  5. Menetapkan cara yang memungkinkan siswa melakukan interaksi dan bereaksi dengan lingkungan
Fungsi khusus dari sebuah model mengajar seperti yang diutarakan oleh SS Chauhan (1979 : h. 20 – 1) adalah sebagai berikut :
  1. Pedoman, artinya berfungsi sebagai pedoman yang dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan guru.
  2. Pengembangan kurikulum, artinya dapat membantu dalam mengembangkan kurikulum untuk satuan dan kelas yang berbeda dalam pendidikan.
  3. Menetapkan bahan-bahan pengajaran, artinya berfungsin untuk menetapkan secara rinci bentuk-bentuk bahan pengajaran yang berbeda yang akan digunakan guru dalam membantu perubahan yang baik dari kepribadian siswa.
  4. Membantu perbaikan dalam mengajar, artinya dapat membantu proses mengajar belajar dan meningkatkan keefektifan mengajar.
Fungsi-fungsi model mengajar di atas akan digunakan oleh guru dalam mengembangkan model-model mengajar yang ia anggap sesuai dengan tujuan, bahan, dan sarana pendukung dalam melaksanakan tugas-tugas mengajar.


   




BAB III

METODE PENELITIAN



A. Metode Penelitian
            Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ), yaitu suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar  (KBM) dalam arti luas  ( Purwadi, 1999). Tujuan PTK adalah secara umum adalah untuk memperbaiki pelaksanaan KBM.
            PTK sebagai bentuk penelitian reflektif  yang dilakukan  oleh guru sendiri dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya. Jadi bentuk Penelitian Tindakan kelas yang dikembangkan peneliti adalah menurut Kasbolah adalah Penelitian Tindakan Guru sebagai Peneliti, dimana guru terlibat secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
B. Prosedur Penelitian
            Penilitian Tindakan Kelas ini menggunakan pembelajaran kontekstual dengan persiapan :
  1. Pembuatan lembar instrumen
  2. Mempersiapkan materi pembelajaran untuk tugas observasi dan diskusi
  3. Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah dipahami siswa
  4. Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai materi pembelajaran
  5. Persiapan pre test, post test dan pembuatan perangkat penilaian
  6. Membuat lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan, kemandirian, kompetensi, kelancaran dan ketetapan
  7. Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan melalui siklus-siklusuntuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran Pkn dengan menggunakan model cooperative learning tipe Make – A  Match yang sebelumnya dibuat terlebih dahulu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Adapun prosedur Penelitian Tindakan Kelas dijabarkan sebagai berikut :
  1. Perencanaan ( Planning )
    1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan model Make -A Match
    2. Mempersiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran  yaitu berupa pilihan tema-tema yang harus dipilih oleh kelompok
    3. Membuat lemabar observasi atau instrumen penelitian untuk memantau proses pembelajaran
    4. Membuat alat evaluasi yaitu berupa instrumen penelitian untuk mengetahui tingkat  pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran atau penilaian proses pembelajaran yang digunakan dalam siklus PTK
  2.  Pelaksanaan
    1. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya pembelajaran
    2. Peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah peserta didik masing-masing lima orang
    3. Guru menjelaskan prosedur pembelajaran cooperative learning tipe Make –A Match
    4. Setiap kelompok ditugaskan untuk melakukan diskusi untuk   mempersiapkan  materi tersebut.
                 e.    Guru menyiapkan beberapa kartu yang dipakai untuk sesi review
     f.  Siswa bersama-sama dalam kelompok menggali informasi dari berbagai      sumber yang relevan tentang system hukum danperadilan internasional
           g. Siswa mendapat sejumlah kartu yang harus dimainkan  bersama dalam kelompok
           h. Siswa secara berkelompok memainkan kartu dengan cara mengumpulkan kartu yang memiliki kesamaan materi atau materi yang satu tema, misalnya siswa akan mengumpulkan kartu yang temanya/judulnya subjek hokum internasional, maka siswa harus mengumpulkan enam kertu yang berisi tentang subjek hukum inter nasional
         i Setelah siswa berahasil mengumpulkan kartu, siswa diberikan waktu untuk menghapalkannya dan setelah itu dan dinilai oleh teman kelompoknya tentang kebenarannya.
j.        Siswa memainkan kartu sampai seluruh materi yang terdapat dalam kartu dapat dikuasai siswa secara maksimal   


  1. Pengamatan (Observing)
    1. Seberapa banyak pelaksanaan tindakan telah sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditentukan sebelumnya
    2. Seberapa banyak pelaksanaan telah menunjukkan tanda-tanda akan tercapai tindakan kelas
    3. Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan positif
    4. Apakah terjadi dampak sampingan yang negatif sehingga merugikan atau kecenderungan mengganggu kegiatan lain.
Dari hasil observasi dijadikan kajian untuk melakukan refleksi yang menjadi acuan pelaksanaan siklus selanjutnya
  1. Refleksi
Pada tahap refleksi ini peneliti mengingat dan merenungkan kembali pelaksanaan tindakan kelas yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses berbagai masalah kelemahan dan kekurangannya serta kendala yang dihadapi dalam melaksanakan tindakan kelas. Refleksi dapat dijadikan acuan perubahan kearah perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.
C. Instrumen Penelitian
            Instrumen penelitian adalah cara atau alat untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Agar data yang dihasilkan valid dan akurat, maka instrumen yang digunakan  dalam penelitian ini adalah :
  1. Angket atau quisioner yang berupa sejumlah pertanyaan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang dilakukan
  2. Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi dalam PTK ini merupakan suatu gambaran untuk melihat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model  cooperative learning tipe Make – A Match
  3. Dokumentasi adalah ditujukan  untuk memperoleh data langsung dari penelitian, artinya dalam PTK ini  yang didokumentasikan yaitu berupa hasil nilai-nilai yang diperoleh siswa pada PTK I, II, III

D. Subjek dan Waktu Penelitian
     1. Subjek Penelitian
      Subjek penelitian dalam PTK ini adalah kelas X1 -1PS1 SMAN 2 Padalarang. Jumlah siswa kelas X1 IPS 1 adalah sejumlah 42 orang. Penulis memilih kela X1- 1PS 1 sebagai subjek penelitian adalah karena kelas ini memiliki keragaman kemampuan, lebih semangat belajar dan lebih kompak dan lebih keratif dibanding dengan kelas lain.
  2. Waktu Penelitian
      PTK ini dilaksanakan sekitar bulan April  sampai dengan Mei  2010.








BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian
            Proses pengajaran yang dilakukan pada penelitian tindakan kelas ini dengan menggunakan model cooperative learning tipe Make – A Match, dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat kerjasama, kekompakan, interaksi banyak arah, penguasaan pengetahuan yang baik, penanaman nilai moral dan ketrampilan peserta didik, dalam kompetensi dasar mendeskripsikan system hukum internaional, yang diharapkan akan meningkatkan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal. ( KKM ).
1. Hasil Deskripsi Siklus I
    a. Perencanaan
        Sebelum melaksanakan tindakan  yang pertama, peneliti menyusun perencanaan sebagai berikut  :
-          Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ), menyiapkan materi pembelajaran, menyiapkan lembar observasi, menyiapkan kuesioner, menyiapkan soal essai
-          Pembagian Kelompok. Siswa kelas X1 IPS 1  yang berjumlah 42 orang dibagi kedalam 8 kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang. Pembentukan kelompok berdasarkan pada hasil test sebelumnya yang diatur sedemikan rupa sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen.

   b. Pelaksanaan tindakan
       -  Kegiatan awal
          Sebelum kegiatan dimulai guru melakukan apersepsi dan motivasi serta membahas  kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran.
       -  Kegiatan inti
           * Guru menyajikan materi tentang system hokum internasional
           * Peserta didik secara berkelompok melakukan diskusi tentang tema yang akan akan menjadi  dalam  tema kartu         
           *  Guru mengamati jalannya diskusi
           * 
   c. Kegiatan penutup
       Setelah pembelajaran selesai guru menyimpulkan hasil pembelajaran, kemudian memberikan soal test individu
       Dari hasil test individu tersebut diperoleh nilai sebagai berikut :

        Tabel 4.1Presentasi nilai ketuntasan belajar siswa pada PTK Siklus 1   
    
Nilai
Jumlah peserta didik
Presentasi
< 60
        > 60
29 orang
                        13 orang
70 %
                      30 %


Tabel 4.2 Kontribusi anggota kelompok pada perolehan nilai kelompok

Kelompok
Peserta didik
Kontribusi nilai
Nilai kelompok


1
1
2
3
4
5
5
5
10
30
10


60


2
1
2
3
4
5
10
10
20
20
5


65


3
1
2
3
4
5
5
20
10
5
20


60


4
1
2
3
4
5
20
10
10
5
30


75


5

1
2
3
4
5
30
10
10
10
5


65


6
1
2
3
4
5
10
10
30
5
10


65


7
1
2
3
4
5
10
20
10
5
5


50


8
1
2
3
4
5
10
20
10
5
30


75

   d. Observasi
       Berdasarkan pada data Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 serta hasil dari observasi ternyata hasilnya belum sessuia seperti yang diharapkan, hal ini dikarenakan masih banyak kekurangan yaitu sebagai berikut :
1.      Pada saat bermain kartu  berlangsung seharusnya guru bertindak sebagai fasilitator, motivator dan mediator
2.      Adanya dominasi siswa yang berprestasi pada saat main kartu sedang berlangsung
3.      Siswa belum terbiasa menggali materi  melalui kartu
4.      Guru menyimpulkan materi tanpa melibatkan siswa
   e.  Refleksi
        Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran pada saat siklus 1, maka peneliti berusaha melakukan refleksi atau perbaikan untuk tindakan selanjutnya, yaitu dengan cara sebagai berikut :
1.      Guru tidak mendoninasi pembelajaran, akan tetapi lebih banyak mengarahkan peserta didik dalam diskusi dan pada saat mengerjakan kelompok
2.      Mengontrol kinerja siswa dan mencegah secara bijaksana pesrta didik yang mendominasi kegiatan
3.      Memotivasi siswa untuk berani menjelaskan materi dalam kartu
4.      Materi pembelajaran sebaiknya disimpulkan secara bersama-sama
2. Hasil Deskripsi Siklus II
    Dari hasil refleksi pada siklus I disimpulkan bahwa perlu diberikan tindakan selanjutnya yaitu Siklus II karena hasilnya dipandang belum cukup memuaskan.
    a. Perencanaan
        Sebelum melakukan tindakan yang kedua, peneliti menyusun perencanaansebagai berikut : Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ), menyiapkan materi pembelajaran, menyiapkan lembar observasi, menyiapkan kuisioner dan menyiapkan soal tes essai
    b. Pelaksanaan tindakan
        - Kegaiatn awal
          Sebelum kegiatan dimulai guru melakukan apersepsi dan motivasi diantaranya dengan cara memberikan penghargaan pada kelompok dengan nilai tertinggi pada pertemuan sebelumnya, serta  membahas kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran
       - Kegiatan inti
         * Guru menyajikan materi tentang system hukum internasional kemudian membagikan kartu  berupa kumpulan tema tentang system hukum internasional.
          * Peserta didik secara berkelompok melakukan permainan kartu
         *  Guru mengamati jalannya diskusi dan memberikan motivasi agar setiap peserta didik sebagai anggota kelompok terlibat aktif dan permainan berjalan lancar
         * Setelah berdiskusi, setiap kelompok diberi kesempatan untuk memberikan apresiasiatau penilaian dan komantar terhadap hasil karya orang lain.
        - Kegiatan penutup
           Setelah pembelajaran selesai guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran, kemudian memberikan test individu
Tabel 4.3 Presentasi nilai ketuntasan belajar siswa pada PTK 2
Nilai
Jumlah peserta didik
Presentase
< 60
       > 60
18 orang
                             24 orang
43 %
                  57 %

Tabel 4.4 Kontribusi anggota pada perolehan nilai kelompok
Kelompok
Siswa
Kontribusi nilai
Nilai kelompok


1
1
2
3
4
5
10
10
20
30
10


80


2
1
2
3
4
5
10
30
20
20
10


90


3
1
2
3
4
5
5
20
10
10
30


75


4
1
2
3
4
5
20
5
5
10
30


70


5
1
2
3
4
5


30
10
20
10
10


80


6
1
2
3
4
5
20
10
20
30
10


90


7
1
2
3
4
5
10
20
10
5
5


50


8
1
2
3
4
5
10
20
10
5
30


75

   c. Observasi
       Berdasarkan data pada tabel  4.3 dan 4.4 dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan  hasil belajar siswa pada siklus I, tetapi hasil tersebut masih belum sesuai  dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi hal ini disebabkan antara lain :
1.      Pada saat diskusi berlangsung peran guru sebagai fasilitator, motivator dan mediator masih kurang maksimal
2.      Masih ada dominasi peseta didik pada saat main kartu
3.      Peserta didik masih belum terbiasa menggunakan kartu untuk pembelajaran
   d. Refleksi
       Berdasarkan permasalahanyang terjadi pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran pada siklus II, maka peneliti berusaha melakukan refleksi atau perbaikan untuk tindakan selanjutnya, yaitu dengan cara sebagai berikut :
1.      Meningkatkan peran guru sebagai fasilitator, motivator dan mediator selama pelaksanaa diskusi berlangsung dan lebih banyak mengarahkan peserta didik pada saat main kartu dan mengerjakan tugas kelompok
2.      Mengontrol kerja peserta didik dan mencegah secara bijaksana dan tegas peserta didik yang mendominasi kegiatan
3.       Meningkatkan motivasi peserta didik
4.      Menyimpulkan hasil pembelajaran secara bersama-sama
3. Hasil Deskripsi Siklus III
    Dari hasil refleksi pada siklus II disimpulkan bahwa ada peningkatan pencapaian KKM pada siklus I. Tetapi masih ada kelemahan sehingga hasil yang dicapai masih belum sesuai dengan yang diharapkan, sehingga perlu diberi tindakan selanjutnya yaitu Siklus III, sebagai berikut :
    a. Perencanaan
        Langkah-langkah perencanaan pada siklus III sama seperti pada siklus I dan II, yaitu 
        Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  ( RPP ), menyiapkan materi pembelajaran, lembar observasi, menyiapkan kuisioner dan menyiapkan soal test tulis.
   b. Pelaksanaan
       - Kegiatan awal
          * Karena pada PTK siklus II hasil prestasi peserta didik belum maksimal, maka pada siklus III, peneliti memberikan arahan yang berkaitan dengan model pembelajaran cooperative learning, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dimengerti 
          * Memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapat nilai tertinggi pada pembelajaran sebelumnya
              *  Mengulas kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya
              *  Menyampaikan tujuan pembelajaran
            - Kegiatan inti  
          * Guru menyajikan materi tentang system hukum internasional kemudian membagikan kartu  berupa kumpulan tema tentang system hukum internasional.
          * Peserta didik secara berkelompok melakukan permainan kartu
         *  Guru mengamati jalannya diskusi dan memberikan motivasi agar setiap peserta didik sebagai anggota kelompok terlibat aktif dan permainan berjalan lancar
         * Setelah berdiskusi, setiap kelompok diberi kesempatan untuk memberikan apresiasiatau penilaian dan komantar terhadap hasil karya orang lain.
          - Kegiatan penutup
             * Guru bersama peserta didik bersama-sama menyimpulkan hasil pembelajaran
            * Peserta didik mengerjakan test individu
             Dari hasil test individu pada siklus III, diperoleh hasil belajar sebagai berikut :

Tabel 4.5 Presentasi nilai ketuntasan belajar siswa pada PTK Siklus III
Nilai
Jumlah peserta didik
Presentase
< 60
       > 60
-
42 orang
-
100%

Tabel 4.6 Kontribusi anggota pada perolehan nilai kelompok
Nilai
Peserta didik
Kontribrusi nilai
Nilai kelompok


1
1
2
3
4
5

30
20
20
30
20


120


2
1
2
3
4
5
20
30
20
20
30


120


3
1
2
3
4
5
20
30
20
20
30


120


4
1
2
3
4
5
30
20
20
30
30


130


5
1
2
3
4
5
30
20
20
30
30


130


6
1
2
3
4
5
20
20
20
30
20


110


7
1
2
3
4
5
30
30
30
20
20


130


8
1
2
3
4
5
20
30
30
30
30


140

Dilihat dari tabel 4.5 dan 4.6 dapat disimpulkan bahwa 100 % siswa telah mencapai KKM yang ditentukan, yaitu  sebesar 65 dan dari tabel 4.6 terlihat adanya peningkatan perolehan nilai kelompok dibanding dengan perolehan nilai kelompok dibanding dengan perolehan nilai pada tabel 4.2 dan 4.4. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan peran dari setiap anggota kelompok dalam pelaksanaan pembelajaran mendeskripsikan system hukum internasional . Selain itu berarti juga adaanya peningkatan pengetahuan, sikap, moral, ketrampilan peserta didik dan komunikasi berlangsung secara banyak arah.
Dari data-data yang diperoleh  selama Siklus III, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut  : :
- Siswa telah mencapai nilai  Kriteria Ketuntasan Minimum yang ditetapkan sekolah     
   yaitu 65
- Selama proses pembelajaran dengan model cooperative learning Make Ah  Matc   telah tercipta pembelajaran diharapkan yaitu mampu meningkatkan pengetahuan, membina sikap, moral dan ketrampilan sisiwa, serta komunikasi yang berlangsung banyak arah.
B. Pembahasan
             Berdasarkan data-data yang diperoleh pada siklus I, II, III dapat dilihat peningkatan dan keberhasilan model cooperative learning tipe M ake n- A Match dalam pembelajaran mendeskripsikan system hukum internasional . Presentasi  keberhasilan dapat dihitung sebagai berikut   dan hasilnya adalah :

Siklus
Jumlah peserta didik
Jumlah > 60
Presentase
I
42
13
30 %
II
42
24
58 %
III
42
42
100 %

Untuk melihat kefektifan model cooperative learning dalam menciptakan pembelajaran yang banyak arah dapat dilihat berdasarkan tabel 4.2, 4.4 dan 4.6 dan diolah sebagai berikut :
                                           Dengan asumsi X   = 50

Siklus
Raa-rata nilai akhir putaran
( X   )
Efektivitas
( E )
I
64, 38
20 %
II
76,26
53 %
III
80
60 %
 
















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
            Berdarkan hasil penelitian, data, analisa dan hasil pembahasan yang telah diuraikan pada BAB IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe make A Match dapat menumbuhkan pembelajaran yang meningkatkan pengetahuan, menumbuhkan sikap, moral dan keterampilan yang baik dan komunikasi  banyak arah
  2. Penggunaan model cooperative learning dapat meningkatkan penciptaan Kriteria Ketuntasan Minimal  sebesar 65 pada pembelajaran mendeskripsikan system hokum internasional di kelas X1 IPS – 1 SMAN 2 Padalarangt
B. Saran
            Berdasarkan kesimpulan tersebut peneliti mengemukakan saran-saran sebagai  berikut :
  1. Untuk menciptakan komunikasi banyak arah dan peningkatan penguasaan pengetahuan, pembinaan sikap, moral dan ketrrampilan peserta didikguru harus berani menggunakan model pembelajaran  yang mampu memotivasi pesrta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan mengimplementasikan model cooperative learning tipe Make – A Match
  2. Dalam mengimplementasikan model cooperative learning tipe Make – A Match, guru harus benar-benar menguasai konsep dan langkah-langkah penerapannya, sehingga proses pembelajaran menjadi menarik dan terarah 





DAFTAR PUSTAKA



Abdul Azis Wahab, M A, M.Ed, (2007), Metode dan Model-Model Mengajar, Alfabeta, Bandung

Etin Solihatin,Dra, MPd, (2005), Cooperative Learning, Bumi Aksara, Jakarta

Departemen Pendidikan Nasional (2007).Himpunan Peraturan /Ketentuan Bidang
                     Pendidikan Dasar Dan Menengah DEPDIKNAS.Jakarta

Hasim (2007).Pendidikan Kewarganegaraan 2 untuk SMA kelas X.1Jakarta:Quadra

Ibrahim,H.Muslimin (2000)Pembelajaran Kooperatif.Surabaya:University Press

Mulyasa (2002).Managemen Berbasis Sekolah.Bandung:Remaja Rosdakarya

Mursell,J (1986)Succesful Teaching.Bandung:Jemmars

Pasaribu(1980).Proses Belajar Mengajar.Bandung:Tarsito

Roestiyah,N.K (1998).Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:PT Rineka Cipta

Retno (2007).Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA dan MA kelas X1.Jakarta:Esis
Sukidin, Basrowi, Suranto, (2002), Manajemen penelitian Tindakan Kelas, Insan Cendekia

Susilo (2002).Penelitian Tindakan Kelas.Yogyakarta:Pustaka Book Publisher

Tim Pelatih Proyek PGSM (1999).Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta:Dirjen Diktin
                 Depdik------------
Tim Penyusun (1994).Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:PN Balai Pustaka

Trianto(2007).Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.Jakarta:
                 Prestasi Pustaka


-
----------------------------------------------------------